Pagi itu cerah sekali di SMU Rhodes, SMU
terfavorit di bilangan Texas. Sekolah itu ramai oleh suara murid-murid seperti
biasanya, tetapi untuk pagi ini, koridor kelas tigalah yang paling ramai.
Ternyata, keramaian itu berasal dari segerombolan anak-anak kelas tiga yang
sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Mereka sedang merencanakan pesta kejutan
untuk ulang tahun Derrick, murid laki-laki yang paling diidolakan gadis-gadis
di SMU Rhodes.
“Aku akan berpura-pura menghilangkan iPod-nya. Ia pasti
akan marah besar!” seru Hannah, sahabat terdekat Derrick, sambil tertawa
terbahak-bahak.
Hannah Gregory adalah gadis kelas tiga yang sangat
cantik, pintar, dan populer. Ia telah bersahabat dengan Derrick sejak awal
masuk SMU, karena mereka berdua selalu masuk kelas unggulan di sekolah mereka.
Banyak yang bilang bahwa Hannah dan Derrick akan menjadi pasangan yang cocok
bila mereka menjadi sepasang kekasih. Namun, baik Hannah maupun Derrick tak ada
yang menghiraukan pendapat itu. Mereka berkata bahwa mereka cukup menjadi
sahabat saja.
Kriiing!!!
Bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi. Gerombolan
anak-anak yang tadi berkumpul rupanya sudah bubar sejak beberapa menit yang
lalu setelah mereka mencapai kesepakatan. Hannah pun melangkah masuk ke dalam
kelasnya, lalu berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah tempat
duduk Derrick. Sebelum guru biologi mereka, Nona Scott, memasuki kelas, Hannah
meminjam iPod Derrick dengan alasan ingin melihat-lihat. Tanpa rasa curiga
Derrick meminjamkannya, karena meminjam iPod sudah menjadi rutinitas Hannah
sehari-hari. Setiap harinya, iPod Derrick bisa berada di tangan Hannah sampai
jam pelajaran terakhir usai.
Baru lima belas menit berlalu, tiba-tiba, Charlie, kapten
futbol SMU Rhodes, masuk ke kelas Hannah dan Derrick dan meminta izin kepada
Nona Scott supaya Derrick diperbolehkan keluar kelas. Derrick adalah salah satu
anggota tim futbol SMU Rhodes. Charlie memang sering memanggil anak-anak tim
futbol pada saat jam pelajaran untuk berkumpul membicarakan tentang pertandingan
atau masalah lainnya. Tetapi, kali ini adalah muslihat yang tentunya telah
direncanakan sebelumnya oleh anak-anak kelas tiga.
Bagus, rencana
berjalan dengan mulus, pikir Hannah. Hannah pun segera meminta izin kepada
Nona Scott supaya diperbolehkan ke toilet. Nona Scott segera mengiyakannya.
Padahal, sesungguhnya Hannah ingin menyembunyikan iPod Derrick. Akan tetapi, ia
bingung sejenak, mau disembunyikan di mana iPod itu? Lalu, tiba-tiba ia
teringat bahwa sekolah mereka mempunyai sebuah ruangan, yang tak seorang pun
pernah masuk ke dalamnya, karena di depan pintunya tertulis, ‘Dilarang Masuk.’
Biarpun begitu, pintu itu terlihat sama seperti yang lain.
Hannah berjalan perlahan menuju pintu itu. Setelah sampai
di depan pintu itu, ia bimbang apakah akan membukanya atau tidak. Ia tidak mau
menghancurkan rencana pesta kejutan untuk Derrick, tetapi ia juga takut akan
hukuman yang akan diberikan apabila ada yang membuka pintu itu: diskors selama
seminggu. Setelah melalui pertimbangan yang amat banyak, Hannah melihat-lihat
ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Diputuskanlah untuk membuka pintu itu,
lalu ia segera meletakkan iPod Derrick di lantai ruangan, dan menutup pintunya
kembali. Dengan perasaan cemas, Hannah pun berjalan menuju kelasnya dengan tergesa-gesa.
* * * * *
Hannah duduk di kursinya dengan
perasaan yang masih campur-aduk. Yang ia takuti
hanyalah apabila ia menggagalkan pesta kejutan itu. Sekarang memang waktu istirahat, tetapi Hannah tak kunjung beranjak dari kursinya.
hanyalah apabila ia menggagalkan pesta kejutan itu. Sekarang memang waktu istirahat, tetapi Hannah tak kunjung beranjak dari kursinya.
“Kamu kenapa sih?” tanya Derrick
yang tiba-tiba duduk di sebelah Hannah.
“Nggak apa-apa, memangnya kenapa
sih?” sahut Hannah, malah balik bertanya.
“Dari tadi murung terus. Aku ke
lapangan dulu, ya, mau main!” seru Derrick sambil berlari meninggalkan kelas.
Hannah hanya mengangguk mengiyakan.
Dalam hatinya, Hannah merasa
bersalah menyembunyikan iPod Derrick di
ruangan yang sebenarnya tidak boleh dimasuki itu, tetapi apa boleh buat,
ini juga dilakukannya demi suksesnya pesta kejutan untuk Derrick. Hannah
sedikit bernapas lega. Dengan perasaan lega itu ia akhirnya pergi ke kantin dan
membeli beberapa makanan ringan dan minuman.
* * * * *
Kriiing!!
Bel
tanda sekolah usai akhirnya dibunyikan juga. Hannah semakin merasa lega, karena
itu artinya sebentar lagi perasaan cemasnya akan berakhir. Tapi, ia juga
sedikit cemas, karena ruangan yang ia pakai untuk menyembunyikan iPod-nya
terlihat begitu seram dan sangat terlarang.
“Hannah.
Kamu liat iPod-ku?” Tanya Derrick. Hannah sedikit senang karena Derrick
mencari-cari iPod-nya, tandanya rencananya berhasil. Seberkas senyuman tampak
di wajah Hannah. Derrick semakin curiga.
“Kamu
menyembunyikannya ya? Benarkah itu, Hannah?” lanjut Derrick.
“Kamu
tidak boleh asal menuduhku seperti itu!” jawab Hannah. Aktingnya cukup meyakinkan.
Dan karena Derrick percaya dengan sahabatnya, ia tidak jadi menuduhnya. Derrick
marah besar.
“Heh
kalian! Dimana iPod-ku?! Kembalikan!” teriak Derrick. Ia mengancam satu kelas
jika tidak ada yang mengaku ia akan meneror semua anak di kelas itu. Hannah
merasa iba, tapi ia tetap professional dengan menjalankan rencana semulanya.
“Hannah,
Derrick sudah marah besar tuh. Kembalikan saja iPod-nya!” bisik salah seorang
teman sekelas mereka, Josephine. Akhirnya Hannah keluar bersama Josephine untuk
mengambil iPod yang tadi disembunyikannya.
Sesampai
mereka di sana, iPod Derrick sudah menghilang. Hannah panik. “Dimana
iPod-nya?!”
Ternyata
Josephine sudah mengambil iPod itu duluan. Ia memegang iPod itu sambil
menjulurkan lidahnya. “Haha, kena kau Hannah! Ayo sekarang kita kembali ke
kelas untuk mengembalikan iPod milik Derrick. Aku tidak sabar melihat muka
paniknya itu!”
Mereka
pun kembali ke kelas. Di kelas, Derrick sedang mengobrak-abrik laci salah satu
temannya sambil menggerutu sendiri. Melihat Derrick yang menggila, membuat
Hannah semakin iba terhadapnya.
“Derrick,
selamat ulang tahun ya. Ini iPod-mu,” kata Hannah sambil menyerahkan iPod milik
Derrick. Derrick senang, walaupun terlihat di mukanya bahwa ia masih sedikit
marah. Derrick tidak mengucapkan apa-apa kepada Hannah dan berlalu meninggalkan
kelas tanpa sepatah kata pun. Hannah menjadi sedih, juga khawatir. Apakah
Derrick marah dengan tingkahnya. Padahal, hadiah darinya belum diberikan kepada
Derrick.
“Ayolah,
semangat Hannah! Coba kau minta maaf saja kepada Derrick. Mungkin menurutnya,
tingkahmu terlalu berlebihan jadi ia sampai marah kepadamu. Derrick bukan orang
yang ganmpang marah, kan?” kata Josephine menenangkan Hannah yang masih panik.
“Kau
tau, Jo? Derrick tidak gampang marah? Dan ini pertama kalinya ia marah
kepadaku. Dan aku orang pertama yang membuatnya marah. Bagaimana ini……,”
Terjadi
keheninagn yang sangat lama. Hannah pun pulang ke rumah karena sudah sore. Di
perjalanan pulang, ia masih memikirkan Derrick. Karena itu pertama kalinya Derrick
semarah itu kepada Hannah. Ia menunduk sambil menendang-nendang kerikil yang
ada di hadapannya. Hatinya gundah.
Tanpa
disadari, ternyata Derrick mengikutinya sampai pulang ke rumah. Sebenarnya
Derrick tidak marah kepada Hannah, tapi ia hanya ingin mengerjai Hannah. Dan ia
ingin menyatakan perasaannya kepada Hannah, pada hari itu juga.
* * * * *
“Surprise,
Hannah! Aku tidak marah kok sama kamu,” ujar Derrick disertai senyuman yang
menghias wajah tampannya. Tetapi Hannah masih tidak mengerti dan ia menangis di
hadapan Derrick.
“Maksud
kamu apa? Aku….. Maaf tadi aku menyembunyikan iPod-mu…. Itu kejutan dariku… Aku
berniat ingin mengerjaimu, tapi malah jadi begini… Maaf Derrick,” jelas Hannah.
Hannah mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Kotak kecil itulah hadiah dari
Hannah untuk Derrick.
“Ini
apa?” Tanya Derrick.
“Buat
kamu. Tadinya aku mau ngasih. Selamat ulang tahun Derrick Johnson.”
“Oh
iya, aku mau bilang sesuatu sama kamu,” kata Derrick. Hannah langsung menghapus
air mata yang mengalir di pipinya dan menggantinya dengan senyuman. “I love
you, Hannah. Will you be my girlfriend?” Lanjut Derrick. Pipi Hannah memerah.
Dan kali ini tangisan itu berubah mnejadi tangisan haru.
The writer says:
This is a klise story. So I was checking my files to delete some unused files, and I saw this. I don't know who wrote this story, but I think it's mine... lol.
#salamjomblo
No comments:
Post a Comment