Tuesday, December 10, 2013

Story

            Pagi  itu cerah sekali di SMU Rhodes, SMU terfavorit di bilangan Texas. Sekolah itu ramai oleh suara murid-murid seperti biasanya, tetapi untuk pagi ini, koridor kelas tigalah yang paling ramai. Ternyata, keramaian itu berasal dari segerombolan anak-anak kelas tiga yang sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Mereka sedang merencanakan pesta kejutan untuk ulang tahun Derrick, murid laki-laki yang paling diidolakan gadis-gadis di SMU Rhodes.
            “Aku akan berpura-pura menghilangkan iPod-nya. Ia pasti akan marah besar!” seru Hannah, sahabat terdekat Derrick, sambil tertawa terbahak-bahak.
            Hannah Gregory adalah gadis kelas tiga yang sangat cantik, pintar, dan populer. Ia telah bersahabat dengan Derrick sejak awal masuk SMU, karena mereka berdua selalu masuk kelas unggulan di sekolah mereka. Banyak yang bilang bahwa Hannah dan Derrick akan menjadi pasangan yang cocok bila mereka menjadi sepasang kekasih. Namun, baik Hannah maupun Derrick tak ada yang menghiraukan pendapat itu. Mereka berkata bahwa mereka cukup menjadi sahabat saja.
            Kriiing!!!
            Bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi. Gerombolan anak-anak yang tadi berkumpul rupanya sudah bubar sejak beberapa menit yang lalu setelah mereka mencapai kesepakatan. Hannah pun melangkah masuk ke dalam kelasnya, lalu berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah tempat duduk Derrick. Sebelum guru biologi mereka, Nona Scott, memasuki kelas, Hannah meminjam iPod Derrick dengan alasan ingin melihat-lihat. Tanpa rasa curiga Derrick meminjamkannya, karena meminjam iPod sudah menjadi rutinitas Hannah sehari-hari. Setiap harinya, iPod Derrick bisa berada di tangan Hannah sampai jam pelajaran terakhir usai.
            Baru lima belas menit berlalu, tiba-tiba, Charlie, kapten futbol SMU Rhodes, masuk ke kelas Hannah dan Derrick dan meminta izin kepada Nona Scott supaya Derrick diperbolehkan keluar kelas. Derrick adalah salah satu anggota tim futbol SMU Rhodes. Charlie memang sering memanggil anak-anak tim futbol pada saat jam pelajaran untuk berkumpul membicarakan tentang pertandingan atau masalah lainnya. Tetapi, kali ini adalah muslihat yang tentunya telah direncanakan sebelumnya oleh anak-anak kelas tiga.
            Bagus, rencana berjalan dengan mulus, pikir Hannah. Hannah pun segera meminta izin kepada Nona Scott supaya diperbolehkan ke toilet. Nona Scott segera mengiyakannya. Padahal, sesungguhnya Hannah ingin menyembunyikan iPod Derrick. Akan tetapi, ia bingung sejenak, mau disembunyikan di mana iPod itu? Lalu, tiba-tiba ia teringat bahwa sekolah mereka mempunyai sebuah ruangan, yang tak seorang pun pernah masuk ke dalamnya, karena di depan pintunya tertulis, ‘Dilarang Masuk.’ Biarpun begitu, pintu itu terlihat sama seperti yang lain.
            Hannah berjalan perlahan menuju pintu itu. Setelah sampai di depan pintu itu, ia bimbang apakah akan membukanya atau tidak. Ia tidak mau menghancurkan rencana pesta kejutan untuk Derrick, tetapi ia juga takut akan hukuman yang akan diberikan apabila ada yang membuka pintu itu: diskors selama seminggu. Setelah melalui pertimbangan yang amat banyak, Hannah melihat-lihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Diputuskanlah untuk membuka pintu itu, lalu ia segera meletakkan iPod Derrick di lantai ruangan, dan menutup pintunya kembali. Dengan perasaan cemas, Hannah pun berjalan menuju kelasnya dengan tergesa-gesa.

* * * * *

Hannah duduk di kursinya dengan perasaan yang masih campur-aduk. Yang ia takuti
hanyalah apabila ia menggagalkan pesta kejutan itu. Sekarang memang waktu istirahat, tetapi Hannah tak kunjung beranjak dari kursinya.
“Kamu kenapa sih?” tanya Derrick yang tiba-tiba duduk di sebelah Hannah.
“Nggak apa-apa, memangnya kenapa sih?” sahut Hannah, malah balik bertanya.
“Dari tadi murung terus. Aku ke lapangan dulu, ya, mau main!” seru Derrick sambil berlari meninggalkan kelas. Hannah hanya mengangguk mengiyakan.
Dalam hatinya, Hannah merasa bersalah menyembunyikan iPod Derrick di  ruangan yang sebenarnya tidak boleh dimasuki itu, tetapi apa boleh buat, ini juga dilakukannya demi suksesnya pesta kejutan untuk Derrick. Hannah sedikit bernapas lega. Dengan perasaan lega itu ia akhirnya pergi ke kantin dan membeli beberapa makanan ringan dan minuman.

* * * * *

Kriiing!!
Bel tanda sekolah usai akhirnya dibunyikan juga. Hannah semakin merasa lega, karena itu artinya sebentar lagi perasaan cemasnya akan berakhir. Tapi, ia juga sedikit cemas, karena ruangan yang ia pakai untuk menyembunyikan iPod-nya terlihat begitu seram dan sangat terlarang.
“Hannah. Kamu liat iPod-ku?” Tanya Derrick. Hannah sedikit senang karena Derrick mencari-cari iPod-nya, tandanya rencananya berhasil. Seberkas senyuman tampak di wajah Hannah. Derrick semakin curiga.
“Kamu menyembunyikannya ya? Benarkah itu, Hannah?” lanjut Derrick.
“Kamu tidak boleh asal menuduhku seperti itu!” jawab Hannah. Aktingnya cukup meyakinkan. Dan karena Derrick percaya dengan sahabatnya, ia tidak jadi menuduhnya. Derrick marah besar.
“Heh kalian! Dimana iPod-ku?! Kembalikan!” teriak Derrick. Ia mengancam satu kelas jika tidak ada yang mengaku ia akan meneror semua anak di kelas itu. Hannah merasa iba, tapi ia tetap professional dengan menjalankan rencana semulanya.
“Hannah, Derrick sudah marah besar tuh. Kembalikan saja iPod-nya!” bisik salah seorang teman sekelas mereka, Josephine. Akhirnya Hannah keluar bersama Josephine untuk mengambil iPod yang tadi disembunyikannya.
Sesampai mereka di sana, iPod Derrick sudah menghilang. Hannah panik. “Dimana iPod-nya?!”
Ternyata Josephine sudah mengambil iPod itu duluan. Ia memegang iPod itu sambil menjulurkan lidahnya. “Haha, kena kau Hannah! Ayo sekarang kita kembali ke kelas untuk mengembalikan iPod milik Derrick. Aku tidak sabar melihat muka paniknya itu!”
Mereka pun kembali ke kelas. Di kelas, Derrick sedang mengobrak-abrik laci salah satu temannya sambil menggerutu sendiri. Melihat Derrick yang menggila, membuat Hannah semakin iba terhadapnya.
“Derrick, selamat ulang tahun ya. Ini iPod-mu,” kata Hannah sambil menyerahkan iPod milik Derrick. Derrick senang, walaupun terlihat di mukanya bahwa ia masih sedikit marah. Derrick tidak mengucapkan apa-apa kepada Hannah dan berlalu meninggalkan kelas tanpa sepatah kata pun. Hannah menjadi sedih, juga khawatir. Apakah Derrick marah dengan tingkahnya. Padahal, hadiah darinya belum diberikan kepada Derrick.
“Ayolah, semangat Hannah! Coba kau minta maaf saja kepada Derrick. Mungkin menurutnya, tingkahmu terlalu berlebihan jadi ia sampai marah kepadamu. Derrick bukan orang yang ganmpang marah, kan?” kata Josephine menenangkan Hannah yang masih panik.
“Kau tau, Jo? Derrick tidak gampang marah? Dan ini pertama kalinya ia marah kepadaku. Dan aku orang pertama yang membuatnya marah. Bagaimana ini……,”
Terjadi keheninagn yang sangat lama. Hannah pun pulang ke rumah karena sudah sore. Di perjalanan pulang, ia masih memikirkan Derrick. Karena itu pertama kalinya Derrick semarah itu kepada Hannah. Ia menunduk sambil menendang-nendang kerikil yang ada di hadapannya. Hatinya gundah.
Tanpa disadari, ternyata Derrick mengikutinya sampai pulang ke rumah. Sebenarnya Derrick tidak marah kepada Hannah, tapi ia hanya ingin mengerjai Hannah. Dan ia ingin menyatakan perasaannya kepada Hannah, pada hari itu juga.

* * * * *
“Surprise, Hannah! Aku tidak marah kok sama kamu,” ujar Derrick disertai senyuman yang menghias wajah tampannya. Tetapi Hannah masih tidak mengerti dan ia menangis di hadapan Derrick.
“Maksud kamu apa? Aku….. Maaf tadi aku menyembunyikan iPod-mu…. Itu kejutan dariku… Aku berniat ingin mengerjaimu, tapi malah jadi begini… Maaf Derrick,” jelas Hannah. Hannah mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Kotak kecil itulah hadiah dari Hannah untuk Derrick.
“Ini apa?” Tanya Derrick.
“Buat kamu. Tadinya aku mau ngasih. Selamat ulang tahun Derrick Johnson.”
“Oh iya, aku mau bilang sesuatu sama kamu,” kata Derrick. Hannah langsung menghapus air mata yang mengalir di pipinya dan menggantinya dengan senyuman. “I love you, Hannah. Will you be my girlfriend?” Lanjut Derrick. Pipi Hannah memerah. Dan kali ini tangisan itu berubah mnejadi tangisan haru.



The writer says: 
This is a klise story. So I was checking my files to delete some unused files, and I saw this. I don't know who wrote this story, but I think it's mine... lol. 
#salamjomblo

No comments:

Post a Comment