Undangan pernikahan berwarna emas itu membuat tangisanku semakin kencang. Beberapa kali ku telepon teman-temanku, tetapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya ku telepon dia.
Kejadian beberapa bulan lalu kini teringat olehku.
*****
"Kamu mau makan apa?" Tanya seorang laki-laki.
"Yang ini aja," jawab si perempuan sambil menunjuk ke sebuah hidangan di menu. Kulihat perempuan itu, sepertinya aku mengenalinya. Ah! Itu kan Rani! Rani sama siapa tuh?
I........... itu............. Vicko?!
"Omfg." Kata Rani.
"Kenapa?" Tanya Vicko.
"Turn around." Aku sudah berdiri tepat di belakangnya sambil menangis. Apa yang mereka lakukan?
"I'm sorry, Vi...... Maafin aku....." Hatiku sudah sangat sakit. Tidak tahu harus berbuat apa. Aku terdiam. "Vi, maafin aku....." Aku langsung meninggalkan mereka. Dan seperti biasa, Vicko tidak mengejarku seperti di film-film itu. Aku terlalu banyak berkhayal.
Setelah sampai di rumah, aku langsung mengurung diri di kamar.
Bodoh. Seharusnya aku tidak kabur begitu saja. Seharusnya aku meminta penjelasan terlebih dahulu. Tiba-tiba ada suara mobil yang sedang parkir.
Pintu kamarku diketuk. "Vina, ini aku." Aku membukakan pintunya.
"Maafin aku. Aku tau aku salah. Tapi, can I get one more chance please?" Aku lemah. Aku tidak tega melihatnya seperti ini.
"Tapi tadi kamu ngomong aku-kamu sama Rani, isn't that obvious? Trus kamu makan malam berdua sama dia? Does it explain everything? Yes. Kamu tau kan, aku ini deket banget sama Rani. Very very close. Kita udah deket dari TK, gak bisa dipisahkan. And guess what. Aku sebenernya udah capek banget sama semua ini. Aku selalu sakit, selalu bete. Mau kamu apalagi? Mau nyakitin aku gimana lagi? I'm sorry, honey. I still love you but I think that's enough."
*****
Resepsi pun dimulai. Aku membantu mempelai wanita untuk merias. Aku dan teman-temanku diminta Vicko untuk menjadi wedding stylist dan band di acara mereka. Ya, walaupun hatiku sakit. Kedua mempelai duduk berdampingan. Kulihat di sana, dua orang itu sedang tersenyum bahagia. Bercanda gurau bersama. Mereka akan menghabiskan hidup bersama-sama.
"Aku bersama Sarah, salah satu temanku berjalan ke arah mereka untuk memberikan selamat. Ketika berada di depan Vicko, mataku memandanganya begitu dalam. Sedah lama sekali sejak terakhir kali aku memandangnya. Tatapan matanya yang hangat itu sangat berarti untukku. Dialah segalanya bagiku. Tapi dia juga yang menyakitiku.
"Selamat ya kalian berduaaaaa. Lo berdua emang cocok kok!" Kata Sarah. Aku hanya berdiri di sana, diam mematung, sambil tersenyum pahit.
"Selamat ya Vic. Akhirnya kalian... Jaga sahabat gue ya Vic. Jaga Vicko baik-baik ya Ran. I don't want to lose both of you. Don't ever change." Ujarku memberi selamat kepada mereka berdua. Di akhir kalimat, suaraku seperti tertahan. Hampir saja air mataku mengalir di depan mereka. Tetapi aku berusaha pergi secepatnya dari sana.
Mungkin mereka kesal kepadaku karena sikapku yang agak aneh ini. Terlihat dari wajah mereka bahwa mereka kesal denganku. Ketika aku menangis di tengah-tengah lagu, Vicko menghampiriku dan mengusirku. Semua orang di gedung itu kaget. Setelah itu aku langsung pulang. Mereka membenciku. Aku tau itu.
Tapi mereka tidak mengetahui isi hatiku.
The writer says:
This story is written when I was very depressed, frustrated, and stressed out. So I made this and I retype it. I hope it's not a true story.
arrivederci
No comments:
Post a Comment